Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Inilah Bintang-Bintang Pemburu Muda Yang Melesat Bak Peluru


Sejumlah bintang-bintang di ruang angkasa, bergerak sangat cepat dari satu sudut langit ke sudut lainnya, melesat cepat bak peluru. Bahkan, beberapa di antaranya, terlihat seperti anak panah yang siap melesat ke sasarannya.


Teleskop Ruang Angkasa Hubble, berhasil merekam beberapa di antaranya. Ilmuwan Badan Antariksa AS (NASA), Raghvendra Sahai, dari Laboratorium Propulsi Jet di Pasadena, California, AS, menggambarkan betapa mengejutkan perilaku bintang-bintang yang tergolong muda ini.

"Saat saya melihatnya pertama kali, saya katakan "WoW", ini seperti peluru melesat di ruang antar bintang. Mata Hubble yang tajam, merekam struktur dan bentuk bow shock-nya," ujar Sahai yang sejauh ini telah menemukan 14 bintang seperti itu bersama timnya.

Saat menembus gas antar bintang, kanan kirinya membara, karena gesekan akibat tekanan tinggi. Efek bow shock ini membentuk struktur anak panah dan jejak gas membara di belakangnya seperti permukaan air yang pecah saat kepala melaju kencang di permukaan laut.

Dengan memperkirakan kecepatannya, umur bintang-bintang tersebut diperkirakan baru satu juta tahun. Ukurannya berapa kali lebih besar daripada Matahari. Kecepatan geraknya mencapai 180.000 kilometer perjam, atau lima kali lipat dibandingkan rata-rata pergerakan bintang. Artinya dengan asumsi tersebut, bintang-bintang aneh ini telah menjelajah ruang angkasa, sejauh 160 tahun cahaya.

Ada dua kemungkinan mengapa bintang-bintang tersebut melesat begitu cepat. Bisa jadi, bintang-bintang tersebut salah satu bintang dalam sistem bintang ganda yang meledak sebagai supernova, sehingga terpental jauh.

Kemungkinan lainnya, bintang tersebut merupakan hasil tabrakan dua bintang ganda yang menghasilkan objek baru yang terdepak keluar klusternya.

source: http://siradel.blogspot.com/2010/10/bintang-bintang-pemburu-muda-yang.html
Read More >>

"R136a1" Inilah Bintang Raksasa Yang 200 Kali Besar Matahari Kita


Sebuah bintang terbesar di alam semesta saat ini, terdeteksi oleh sekelompok astronom yang berasal dari Inggris. Bintang raksasa itu memiliki ukuran 265 kali lipat lebih besar, dibandingkan dengan bintang milik tata surya kita, Matahari.


Sangking besarnya bintang tersebut, ia dapat mengubah teori tentang bagaimana proses lahirnya sebuah bintang. Bahkan diperkirakan saat lahir, ia mencapai ukuran 320 kali Matahari.

Sebelum ini, menggunakan model yang digunakan oleh peneliti, diketahui bahwa ukuran maksimal bintang adalah 150 kali lipat dibanding Matahari kita. Apapun yang berukuran di atas itu, terlalu sulit untuk terbentuk menjadi sebuah bintang.

Namun, dikutip dari BBC, Paul Crowther, astronom asal University of Sheffield, Inggris, setelah mengamati gambar-gambar yang ditangkap oleh Very Large Telescope di Chile dan teleskop ruang angkasa Hubble, menemukan bintang yang melampaui ukuran maksimal itu.


Selain jauh lebih besar dibanding Matahari, bintang yang diberi nama "R136a1" ini, berjarak 165 ribu tahun cahaya dari Bumi, juga sama terangnya dengan 10 juta buah Matahari kita.

“Sebagai gambaran, perbandingan cahaya antara bintang ini dengan Matahari di tata surya kita, adalah seperti membandingkan sinar Matahari dengan Bulan purnama,” kata Crowther.

Diperkirakan, suhu di permukaan bintang itu mencapai sekitar 50 ribu derajat Celsius, hampir delapan kali lebih panas dibanding Matahari.

Crowther menyebutkan, hal yang lebih penting dari penemuan bintang raksasa itu adalah memberikan keyakinan pada manusia, bahwa kemungkinan besar masih ada bintang-bintang raksasa lainnya, seperti R136a1 di jagat raya ini.

source: http://siradel.blogspot.com/2010/12/r136a1-bintang-terbesar-yang-diketahui.html
Read More >>

Inilah Tempat Kelahiran Dari Bintang-Bintang Raksasa di Alam Semesta

Sebuah tali kosmik dari gas dingin dan debu berjarak 260 tahun cahaya di sepanjang galaksi Bima Sakti, diidentifikasi sebagai tempat kelahiran dari bintang-bintang raksasa. Demikian yang dikatakan oleh seorang ahli astronomi asal Australia.

Jill Rathborne dari CSIRO Astronomy dan Space Science, mengatakan bahwa sebelumnya, sangat minim pengetahuan mengenai bagaimana bintang-bintang raksasa yang berukuran lebih dari delapan kali ukuran matahari kita, bisa terbentuk. Demikian seperti yang dikutip dari UPI.com, Kamis (30/12/2010).


"Jumlah bintang-bintang raksasa tidaklah terlalu banyak dan umurnya juga tidak terlalu lama. Hal ini lah yang menyebabkan objek-objek tersebut sedikit sukar untuk dipelajari," ujar Rathborne.


Rathborne menjelaskan, bintang-bintang raksasa ini memiliki dampak yang penting pada galaksi. Memancarkan radiasi dalam jumlah besar, serta meniupkan angin kosmik yang menempa elemen-lemen berat, sebelum akhirnya meledak sebagai supernova yang masif.

Rathborne adalah anggota dari tim yang menemukan 'tempat kelahiran dari bintang-bintang raksasa' yang berbentuk tali kosmik dari gas dan debu antariksa tersebut, menggunakan Spitzer Space Telescope milik NASA. Mereka menjuluki penemuannya tersebut sebagai 'Nessie Nebula'.

"Itu karena bentuknya terlihat mirip seperti monster Loch Ness," jelas Rathborne.

source: http://siradel.blogspot.com/2011/01/ditemukan-tempat-kelahiran-dari-bintang.html
Read More >>

Rabu, 26 Januari 2011

Bagaimana Dunia 2 Juta Tahun Yang Lalu?


Teorinya sederhana namun agak sedikit kontroversi merujuk pada teori relativitas Einstein. Ilustrasi gambar diatas mungkin dibuat untuk bercanda, bagaimana bisa manusia membuat sebuah cermin raksasa berjarak satu juta tahun cahaya dari bumi. Kalau menggunakan logika fisika jelas hal ini mustahil untuk dilakukan, speed light traveling masih bisa dilakukan manusia lewat film dan cerita-cerita fiksi lainnya.


Saya tidak tertarik dengan tawaran “melihat masa lalu” pada dua juta tahun (garis waktu prasejarah) yang lampau, namun menggunakan model teori ini dengan tolak ukur kenisbian jagat raya menurut saya adalah humor yang cerdas. Yang menarik adalah konsep hubungan antara; ruang, waktu, cahaya, sebagai media informasi (present day) dimasa depan dalam parodi ini.

Mencerna ide ini dengan pendekatan matematik dan mereduksinya ke dalam rumus fisika adalah hal yang konyol, sudah jelas hal ini terukur namun mustahil dalam penerapannya. Si pembuat ilustrasi ini malah beranggapan ide ini lebih cocok dikategorikan sebagai humor ketimbang dianggap sebagai konsep yang serius.

Kemudian terpikir jika metode tersebut difahami dalam perspektif lain. Saya teringat konsep ruang, waktu dan cahaya dalam perspektif kebijakan lama yang menyebutkan bahwa Tuhan mewakilkan eksistensinya dalam ketiga konsep tersebut. Kembali ke masa lalu merupakan hal yang mustahil tapi tidak bagi Sang eksistensi yang melingkupi ruang dan waktu. Kemudian bandingkan peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha dalam perjalan menembus lapisan langit dimana Beliau bertemu dengan para Nabi di masa lalu pada tiap lapisannya. Sesampainya di sana Beliau bertemu dengan Tuhan dalam bentuk suatu Cahaya.

Apakah persamaan konsep teori “bagaimana melihat masa lalu” dengan persfektif yang saya paparkan di atas hanya sekedar kebetulan ? jauh di relung benak saya mengakatakan, “parodi teori ini bukan humor biasa”.

source: http://dunia-statistik.blogspot.com/2010/10/bagaimana-melihat-masa-2000000-tahun.html
Read More >>

Senin, 24 Januari 2011

Inilah Pria yang Temukan 4 Planet Tanpa Bantuan Teleskop

Dilaporkan seorang pengamat astronomi amatir Peter Jalowiczor, menemukan empat planet baru dengan menggunakan komputer rumahan.

Jalowiczor mengatakan bahwa ia menggunakan dua buah komputer rumahnya dan menghabiskan waktu selama tiga tahun, untuk menganalisa data yang dirilis oleh Lick-Canegie Planet Search Team dari University of California, Santa Cruz, California. Demikian seperti yang dikutip dari Cnet, Selasa (4/1/2011).

Peter Jalowiczor, menggunakan spectroscopy Doppler untuk melacak planet yang lokasinya terlalu jauh, untuk dilacak dengan menggunakan teleskop.

Planet-planet baru yang ditemukan oleh Jalowiczor adalah HD31253b, HD218566b, HD177830c dan HD99492c.


"Saya melihat pada perubahan perilaku di bintang-bintang, yang hanya bisa disebabkan oleh planet atau planet yang mengitari mereka. Begitu saya bisa mengidentifikasinya, saya akan mengirimkan informasi detilnya ke Lick-Canegie Planet Search Team di Santa Cruz," jelas Jalowiczor.

"Jika planet mengorbit pada sebuah bintang, maka itu akan menyebabkan sedikit goyangan pada pergerakan bintang tersebut. Goyangan tersebut terlihat pada cahaya bintang tersebut," tambah Jalowiczor.

source
Read More >>

'Matahari Kedua' Siap Sambangi Bumi

LONDON - Tahun ini, bumi bisa saja memiliki matahari kedua selama satu hingga dua pekan. Fenomena supernova itu akan terjadi ketika salah satu bintang paling terang di langit, Betelgeuse, meledak.

Seperti dilansir Daily Mail, Sabtu (22/1/2011), usia Betelgeuse, yang merupakan bagian dari konstelasi Orion (640 tahun dari bumi), akan segera berakhir. Disinyalir, bintang raksasa merah itu bakal meledak, dalam kurun tahun ini.

Ketika itu terjadi, peristiwa itu disebut-sebut akan menjadi ‘pertunjukan cahaya’ paling spektakuler bumi terbentuk. Begitu terangnya cahaya akibat supernova, bumi seolah-olah memiliki dua matahari, dimana langit malam juga akan terang seperti siang hari.

Meski begitu, para peneliti belum berani memastikan kapan tepatnya Betelgeuse meledak.


Pengajar fisika senior di Universitas Southern Queensland Australia, Brad Carter, mengklaim, ledakan itu bisa saja terjadi sebelum 2011 berakhir. Namun, mungkin saja Betelgeuse baru akan meledak pada tahun-tahun mendatang.

"Bintang tua ini sudah kehilangan ‘bahan bakar’ yang memungkinkannya tetap bersinar. Ketika bahan bakar ini habis, bintang akan mati dengan sendirinya dan itu akan terjadi sangat cepat," jelas Carter.

"Ini adalah peristiwa terakhir yang akan dialami bintang. Ketika bintang meledak, kita akan melihat cahaya yang sangat terang untuk beberapa pekan. Kemudian, dalam kurun beberapa bulan ke depan, cahaya itu mulai memudar dan pada akhirnya akan sulit dilihat," pungkasnya.

source
Read More >>

Kenapa Harus Planet di Luar Tata Surya?


Salah satu tren dalam penelitian astronomi masa kini adalah riset planet di luar tata surya atau biasa disebut ekstrasolar atau ekstrasurya. Planet itu didefinisikan sebagi sebuah planet yang terletak di luar tata surya kita atau sistem matahari.

Mengapa planet itu menarik dipelajari dan jadi tren? Johny Setiawan, astronom Indonesia yang tertarik mempelajarinya mengatakan, planet itu menarik sebab bisa digunakan untuk mempelajari keberadaan manusia di bumi dan kehidupan di alam semesta.


"Saya tertarik untuk mempelajari keberadaan kita di alam semesta. Yang paling dekat ya memang mempelajari planet ekstrasurya," katanya. Mempelajari planet itu bisa menjawab pertanyaan apakah manusia di bumi sendirian di alam semesta.

Ia mengatakan, pembelajaran tentang planet ekstrasurya masih dalam tahap awal hingga menengah. "Namun, ilmu pengetahuan tidak ada yang instant," katanya. Butuh waktu lama hingga mencapai kesimpulan.

Kelak, hasil penelitian planet ekstrasurya bisa memiliki andil besar dalam memahami asal muasal tata surya kita, bumi, manusia dan maknanya di alam semesta.

source
Read More >>

Minggu, 23 Januari 2011

Indonesia Kirim Biji Tomat Kering Ke Antariksa

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengirim biji tomat ke Jepang untuk diikutkan dalam misi penerbangan Jepang ke Stasiun Antariksa Internasional. Kapsul milik Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) yang membawa sampel tersebut akan diluncurkan dari Tanegashima, Jepang, pada Sabtu (22/1/2011).

Koordinator program dari Lapan, Ratih Dewanti, Kamis (20/1/2011) di Jakarta, mengatakan, selain Indonesia, tiga negara Asia Tenggara lain, yaitu Malaysia, Thailand, dan Vietnam, juga mengirim biji-bijian dari negerinya, antara lain biji cabai.

Pengiriman sumber hayati ini merupakan bagian dari kegiatan kerja sama multilateral Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) yang antara lain bertujuan untuk meningkatkan minat generasi muda pada bidang keantariksaan. Forum yang diprakarsai JAXA ini diikuti oleh lembaga antariksa dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Korea, dan India.


Sampel biji tomat sumbangan dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati FMIPA Institut Teknologi Bandung seberat 100 gram atau 500-800 biji.

“Biji tomat asal Lembang ini dalam kondisi kering dan steril, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik khusus yang diberikan JAXA,” kata Fenny Dwianti dari institut tersebut.

Sampel akan ditempatkan di antariksa selama dua bulan. Pengembalian sampel ke Indonesia akan melalui Amerika Serikat karena wahana ruang angkasa pembawa kapsul akan mendarat di Bandara John F Kennedy, lanjut Ratih, yang juga Kepala Biro Humas Lapan.

Pengembalian sampel ke Indonesia menggunakan pesawat terbang komersial akan melibatkan pihak Kedutaan Besar RI di AS.

Libatkan sekolah

Untuk memenuhi tujuan program, sampel biji tomat akan dibagikan ke sekolah menengah pertama (SMP). Sebanyak 50 sekolah akan diikutkan pada program ini. Seleksi sekolah peserta riset akan melibatkan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Kementerian Pendidikan Nasional.

Biji itu akan ditanam dan disandingkan dengan biji tomat yang tidak mendapat perlakuan tersebut. Tanaman hortikultura ini masa tanamnya tiga bulan.

Para siswa yang terpilih mengikuti penelitian itu di setiap sekolah kemudian diminta membuat laporannya. “Dengan mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman ini, siswa dapat mengenal dampak lingkungan antariksa sehingga terdorong untuk melakukan penelitian selanjutnya,” kata Ratih.

Penempatan biji di lingkungan tanpa pengaruh gravitasi itu, menurut perkiraan Fenny, akan memengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal itu disebabkan dalam kondisi tanpa gravitasi, sirkulasi udara secara mikroskopis pada sampel akan terhambat.

source: http://kumpulrame.com/?p=588
Read More >>

Jumat, 21 Januari 2011

Inilah planet terpanas yang pernah ditemukan


Astronom yang terlibat dalam proyek Super Wide Angle Search for Planets (SuperWASP) menemukan planet terpanas bernama WASP-33 b. Suhu planet tersebut mencapai 3.200 derajat Celcius, lebih panas dari suhu beberapa bintang.

Salah satu penyebab panasnya suhu planet itu adalah suhu bintang induknya yang juga panas. Astronom mengatakan, suhu bintang induk planet itu adalah 7160 derajat Celsius, lebih tinggi dari suhu matahari yang "hanya" 5600 derajat Celsius. Jarak antara planet ini ke bintangnya juga hanya 7 persen jarak Merkurius ke Matahari.


Keberadaan planet itu telah diduga sejak tahun 2006 lalu namun baru dapat dipastikan pada tahun 2010. Diketahui, planet tersebut tergolong dalam jenis planet gas dengan massa kurang dari 4,1 kali massa Jupiter.

Studi tentang planet ini dipimpin oleh Alexis Smith dari Universitas Keele di Stafordshire, Inggris. Lewat studi ini, astronom juga mengetahui bahwa waktu revolusi planet ini sangat singkat, hanya 29,5 jam.

Drake Demming dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland yang tidak terlibat penelitian ini mengatakan, "WASP-33 b bisa membantu astronom menelaah planet panas yang karakteristisknya masih misteri."

Hal yang bisa dipelajari misalnya adanya planet berorbit dekat dengan bintangnya yang memiliki lapisan atmosfer luar lebih dingin dari lapisan dalamnya. Ini mengejutkan karena planet tersebut "dipanaskan" dari luar.

Deming mengatakan, fakta itu bisa berkaitan dengan adanya senyawa berbasis karbon yang mengubah cara atmosfer merespon radiasi. Senyawa kimia tertentu bisa terbentuk akibat sinar ultraviolet dari bintang.

"Ini pastinya akan menjadi planet yang ingin Anda lihat. Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk bisa mempelajari planet yang mengorbit pada bintang yang superpanas," pungkas Deming dalam sebuah sesi wawancara dengan New Scientist.

source
Read More >>

Senin, 17 Januari 2011

Inilah Black Hole Terbesar di Alam Semesta Ditemukan


Black hole atau lubang hitam terbesar di alam semesta telah ditemukan dengan berat 6,8 miliar kali massa Matahari. Saking besarnya, lubang tersebut konon mampu menelan Bumi beserta seluruh isi tata surya.

Dengan ukuran cakrawala sebesar itu, diperkirakan seluruh isi tata surya tidak bisa melarikan diri dari tepi ini, termasuk cahaya sekali pun. Sebagai perbandingan, besarnya bisa mencapai empat kali lipat orbit planet Neptunus.


Lubang hitam itu terletak di M87. Sejauh ini, ia adalah galaksi terbesar yang terdekat dengan galaksi Bima Sakti. Jaraknya diperkirakan kurang lebih 50 juta tahun cahaya dari Bumi dan masih belum diketahui kapan 'monster' ini lahir.

Menilik ukurannya yang sangat raksasa, sejumlah ilmuwan menganggap lubang itu tercipta karena ratusan lubang hitam yang bergabung menjadi satu di masa lalu.

"Ia bisa menelan sistem tata surya kita," kata Karl Gebhardt, seorang ilmuwan asal University of Texas, Austin-AS, seperti dikutip dari All Voices, Minggu 16 Januari 2011.

Sebuah teleskop khusus di Hawaii digunakan oleh para ilmuwan untuk mengamati obyek yang diperkirakan memiliki berat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dengan teleskop tersebut, Gebhardt dan timnya mampu mengamati obyek luar angkasa hingga kejauhan 500 km.

"Dan, lubang hitam raksasa ini adalah lubang hitam termasif dan terakurat yang pernah kami temukan," kata Astronom George Djorgovski dari California Institute of Technology di Pasadena.

source
Read More >>

Sabtu, 15 Januari 2011

Wow.. Empat Astronom dari Bandung Jadi Nama Asteroid


Empat nama astronom yang semuanya warga Bandung diabadikan menjadi nama asteroid. Keempatnya merupakan mantan kepala Observatorium Bosscha, di mana tiga di antaranya masih aktif sebagai dosen astronomi ITB.

Kepala Observatorium Bosscha Hakim L Malasan mengatakan Internasional Astronomical Union atau federasi astronomi tertinggi di dunia, memberikan empat nama astronom asal Bandung untuk empat buah asteroid jenis Trojan.


Keempat astronom itu adalah 

  1. Bambang Hidayat (76) mantan Kepala Bosscha 1968-1999, yang diabadikan pada asteroid bernomor (12176) Hidayat = 3468 T3. 
  2. Moedji Raharto (56) mantan Kepala Bosscha 2000-2003, diabadikan pada asteroid (12177) Raharto = 4074 T3.
  3. Dhani Herdiwijaya (47) mantan Kepala Bosscha 2004-2005 yang namanya disematkan pada asteroid (12177) Dhani = 4304 T3. 

Terakhir Taufik Hidayat, Mantan Kepala Bosscha 2006-2009, yang namanya diabadikan pada asteroid (12179) Taufiq = 5030 T3.

"Ini merupakan pertama kalinya asteroid diberi nama orang dari warga negara Indonesia, yang kebetulan semuanya warga Bandung," ujar Hakim saat ditemui di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Jumat (14/1/2011).

Asteroid itu ditemukan oleh peneropong langit asal Belanda yaitu C. J Van Houten dan I. Van Houten-Groeneveld pada 16 Oktober 1977. "Saat ditemukan hingga November 2010 empat asteroid itu belum memiliki nama," katanya.

Empat asteroid yang kini berganti nama empat astronom itu mempunyai diameter 1 hingga 1,5 kilometer. "Kalau dari jarak matahari ke asteroid itu sekiar 500 juta kilometer dan empat asteroid itu berada di tengah-tengah planet Mars dan Jupiter," tuturnya.

source
Read More >>

Kamis, 13 Januari 2011

Atmosfer Pluto Berbanding Terbalik Dengan Atmosfer Bumi


Pluto, planet terjauh dari sistem tata surya kita memiliki atmosfir yang unik. Dibandingkan dengan milik Bumi, atmosfir di Pluto terbalik. Semakin tinggi, suhunya semakin tinggi, bukannya semakin rendah.

Dari pengukuran yang dilakukan oleh astronom, menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory, diketahui bahwa metana merupakan gas kedua paling banyak yang ada di atmosfirnya. Gas itu juga lebih panas di tempat yang lebih tinggi dibanding di permukaan planet.


Efek sampingnya, atmosfir bagian atas Pluto memiliki suhu sekitar 50 derajat Celcius. Lebih hangat dibandingkan dengan suhu di permukaan Pluto yang mencapai 230 derajat Celcius di bawah 0.

Menurut spekulasi Emmanuel Lellouch, ketua tim peneliti dari Paris Observatory, Prancis, di permukaan Pluto terdapat lapisan tipis beku dari metana dan gas-gas lain.

“Saat orbit Pluto sedang dekat dengan Matahari, gas beku itu menguap,” kata Lellocuh, seperti dikutip dari National Geographic, 17 Desember 2010. “Proses ini, disebut juga dengan sublimasi, mendinginkan permukaan Pluto sekaligus menghangatkan atmosfirnya,” ucapnya.

Menurut Leslie Young, Deputy Project Scientist for NASA, penemuan itu memberi petunjuk terhadap observasi lebih lanjut yang akan dilakukan satelit New Horizons.

“Kita tahu bahwa Pluto mengalami perubahan saat ia mengelilingi Matahari,” ucap Young. “Mengombinasikan hasil temuan observasi di bumi dengan data yang akan dikumpulkan New Horizons akan memberikan petunjuk jelas seputar perilaku planet kerdil tersebut,” ucapnya.

Sebagai informasi, satelit New Horizons yang diluncurkan pada 19 Januari 2006 diperkirakan akan tiba di orbit Pluto pada 14 Juli 2015 mendatang.

source: http://teknologi.vivanews.com/news/read/194405-atmosfir-pluto-terbalik
Read More >>

Rabu, 12 Januari 2011

NASA Temukan Planet Berbatu Mirip Bumi

WASHINGTON - Sebuah teleskop NASA telah menemukan planet kecil di luar tata surya kita dan kondisinya berbatu sama seperti Bumi.

Sayangnya planet tersebut suhunya terlalu panas untuk mendukung kehidupan. Di satu sisi planet tersebut bersuhu sekira 2.700 derajat Fahrenheit atau 1.500 derajat celsius.

Planet tersebut bernama Kepler 10-b, yang diambil dari nama teleskop yang menemukannya. Demikian seperti dari Daily Mail, Selasa (11/1/2011).

Ilmuwan dari NASA, Natalie Batalha, mengatakan bahwa planet tersebut berukuran sekira 1,4 kali dari Bumi dan memiliki massa sekira 4 1/2 kali planet kita.

Para ahli astronom juga telah menemukan planet lainnya di luar tata surya kita yang massa-nya mirip dengan Bumi, tapi tidak ada yang semirip ini dalam ukuran diameter.


Alasan mengapa planet ini terlalu panas untuk ditinggali oleh mahkluk hidup adalah, jaraknya yang 20 kali lebih dekat dengan bintang induknya, dibandingkan jarak planet Merkurius dengan matahari kita.

source
Read More >>

Senin, 10 Januari 2011

Inilah Foto Paling Jelas Dari Galaksi Andromeda

Foto yang dikeluarkan Badan Administrasi Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Rabu (5/1/2011) merupakan foto yang paling jelas dari Galaksi Andromeda yang pernah diambil dengan sinar inframerah. Teleskop inframerah The Herschel memotret pada 25 Desember 2010.

Lingkaran cincin debu di luar pusat galaksi diperkirakan akibat tabrakan antara galaksi yang lebih kecil dan Andromeda pada masa silam. Citra ini hasil dari Observatorium Antariksa Herschel dengan sinar inframerah (warna oranye) dan dari teleskop XMM-Newton yang menggunakan sinar X (warna biru).

Andromeda adalah galaksi terbesar yang terdekat dengan Galaksi Bima Sakti-galaksi kita.


Galaksi Andromeda.
Read More >>