Minggu, 27 Juni 2010

Menegakkan Pancasila, memperkokoh perekonomian Indonesia

Menegakkan Pancasila, memperkokoh perekonomian Indonesia. Menjalankan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan benar pada kehidupan masyarakat majemuk Indonesia akan memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial negeri ini.

PANCASILA DAN EKONOMI KITA

Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang memiliki karakter dan memegang teguh nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsanyalah yang mampu menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Selain memiliki pijakan kuat untuk mengatasi persoalan bangsanya, nilai-nilai tersebut sekaligus mampu memantapkan arah dalam menghadapi masa depannya. Sebagai bangsa yang besar, negeri ini pun memiliki nilai-nilai yang sangat luhur, yakni Pancasila.

Sayangnya, Pancasila yang telah menjadi nilai-nilai jati diri bangsa kita dalam prakteknya terasa banyak terabaikan. Nilai yang telah dirumuskan para pendiri bangsa ini seakan tak berlaku di tataran masyarakat, bahkan dalam tata kelola ekonomi, politik, pemerintahan, dan negara. Berbagai kasus yang berkembang akhir-akhir ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai yang baru kita peringati kelahirannya pada 1 Juni lalu itu, dalam kehidupan berbangsa, berada pada tingkat yang rendah.
Rasa keadilan seringkali mengusik hati nurani kita. Tengok saja banyaknya kasus korupsi dan penegakan hukum lainnya yang mengabaikan rasa keadilan. Palu hakim terasa tajam bagi si miskin, tapi terasa tumpul bagi mereka yang kuat, kaya, dan berpangkat. Begitu juga rasa keadilan di sektor ekonomi. Ketimpangan di sektor ini seakan menjadi menu realitas setiap hari.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita juga masih menyaksikan sikap-sikap sebagian kelompok yang memaksakan kehendak dan merasa menang sendiri. Atas nama mayoritas, mereka merasa di atas minoritas. Padahal, dalam ideologi Pancasila, diperlukan kesadaran akan adanya pluralisme sekaligus meneguhkan persatuan dan wawasan kebangsaan.

Semula kita berharap pada angin reformasi yang berembus lebih dari 10 tahun lalu. Sayangnya, gerakan yang melahirkan kebebasan berdemokrasi ini pun gagal menciptakan konsolidasi demokrasi dan penguatan ekonomi.

Pengalaman banyak negara demokrasi di dunia menunjukkan, tanpa peningkatan taraf kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan rakyat, demokrasi dapat kehilangan maknanya. Selain itu, muncul praktek-praktek berpolitik yang justru mencederai nilai-nilai demokrasi.

Praktek demokrasi menjadi kian menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan makin mahal. Sialnya, situasi ini masih belum menghasilkan perubahan yang signifikan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Demokrasi menjadi kehilangan dimensi moralitas atau sekadar diwarnai wahana kontestasi untuk merebut kekuasaan.

Pemikiran tentang demokrasi dan penguatan ekonomi menjadi sesuatu yang penting pada saat ini. Melalui demokrasi yang terkonsolidasi akan lahir institusi-institusi sosial, politik, dan ekonomi yang baik, yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Tak hanya itu. Demokrasi juga makin penting bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, demokrasi pun bakal semakin menjadi kebutuhan rakyat. Pada tahap ini, pembangunan ekonomi menjadi prioritas dalam kerangka mengurangi risiko kegagalan demokrasi. Pada tahap selanjutnya, interaksi antara ekonomi dan demokrasi makin erat dan keberadaan demokrasi makin menentukan kinerja ekonomi serta keberlangsungannya.

Untuk menghadapi perkembangan situasi terakhir, sekaligus menyongsong berbagai tantangan masa depan Indonesia, sangat penting dilakukan penguatan ekonomi dengan mengacu pada nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa, yakni Pancasila. Nilai-nilai luhur bangsa perlu diaplikasikan pada pengembangan sistem ekonomi yang berkeadilan sosial. Sistem itu telah berakar kuat pada kehidupan nyata di masyarakat, seperti sistem ekonomi bagi hasil, ekonomi syariah, koperasi, dan UKM.

Pengalaman menunjukkan, sistem ekonomi yang berbasis spekulasi dan tidak berbasis nilai secara nyata telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sistem yang demikian tidak bertumpu dan bahkan bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi acuan bangsa.

Pengembangan ekonomi harus berdasarkan nilai-nilai Pancasila, yang bertumpu pada kekuatan sumber daya nasional, bukan mengandalkan kekuatan asing. Bangsa kita memiliki kekuatan dan potensi nasional, seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun sumber dana domestik yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan.

Kekuatan sumber daya nasional itu akan semakin kokoh dengan ditopang potensi pasar domestik dan potensi industri dalam negeri sebagai motor utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sangat mungkin digerakkan dengan memanfaatkan besarnya potensi pasar dan potensi industri yang dimiliki negeri ini.

Jika itu dilakukan, kita yakin, daya saing industri kita semakin kuat, produktivitas dan kualitas SDM pun meningkat. Ujungnya, lapangan kerja lebih terbuka, daya beli meningkat, dan industri penunjang pun bakal tumbuh.

gatra.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Post