Minggu, 27 Juni 2010

Batik, Nelson Mandela, dan lambang Afrika Selatan

Batik, Nelson Mandela, dan lambang Afrika SelatanBatik, Nelson Mandela, dan lambang Afrika Selatan.

BERBURU BATIK DI JOHANNESBURG
Oleh : Nurdin Saleh

Di Johannesburg, poster raksasa bergambar Nelson Mandela bertebaran di mana-mana, terutama untuk mendukung pelaksanaan Piala Dunia. Di poster itu, foto sang pejuang apartheid nyaris selalu sama: mengenakan batik. Batik memang sudah lama dikenal di Afrika Selatan dan kerap disebut sebagai Madiba Shirt. Madiba adalah nama panggilan Mandela.
Di sela kesibukan mengikuti pertandingan Piala Dunia 2010, saya pun memutuskan untuk menyusuri keberadaan pakaian khas Indonesia itu di Johannesburg. Hasilnya ternyata menggembirakan sekaligus menyedihkan.

Berdasarkan bisikan dari beberapa orang Indonesia yang tinggal di Afrika Selatan, saya pun datang ke daerah Sandton. Di pusat perbelanjaan Village Walk, salah satu tempat belanja kaum elite di Johannesburg, saya pun menemukan Toko Gillani di lantai satu. Di pojok toko yang menjual berbagai macam busana itu terlihat batik dipajang. Dari dalam, baju batik tak terlalu kelihatan karena diletakkan di pojok. Tapi dari luar kaca toko, pajangan batik itu malah terlihat jelas.

Nditshenu Masethe, pelayan berkulit hitam di toko itu, menerangkan bahwa pada hari biasa batik rata-rata hanya laku satu potong dalam lima hari. "Tapi selama Piala Dunia, pada hari yang baik, kami bisa menjual lima potong dalam sehari," katanya. Saat dia menunjukkan koleksi batik toko itu, saya pun terbelalak melihat label harganya: 700 rand (Rp 840 ribu). Yang lainnya bahkan ada yang berharga 800 rand.

Saya juga kemudian bisa bertemu dengan pemilik toko itu, Irfan Gillan, di toko lain di pusat pertokoan Morningside. Lelaki muslim itu mengaku memiliki tiga toko yang semuanya terletak di daerah Sandton. Di ketiga tokonya ia pun menjual batik. "Di sini batik cukup terkenal. Orang mengenakan batik untuk kegiatan-kegiatan khusus, seperti jamuan makan malam atau dansa," katanya. Ia menyebutkan, para pembelinya tak hanya datang dari Afrika Selatan. "Pembeli dari Afrika bagian barat responsnya sangat bagus."

Irfan mengaku mendapatkan barang dari Ali Hasan, Wakil Direktur Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), yang kebetulan berkantor di Village Walk. Saat ditemui, Ali Hasan membenarkan sudah ikut membantu menghubungkan peminat batik dengan pemasok dari Indonesia. "Perkembangannya lumayan bagus. Dua tahun lalu jumlahnya baru 200 potong per tahun, tapi kini sudah mencapai 500 potong per tahun," katanya.

Meski populer, penyebaran batik memang masih seret di Afrika Selatan. Menurut Ali, hal itu tak lepas dari harganya yang mahal. Meski dari pedagang Indonesia hanya dibeli 100 rand, di Johannesburg batik rata-rata dijual 700 rand. Di beberapa toko bahkan ada yang harganya sampai 3.000 rand. "Harga segitu> jelas tak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat sini," katanya.

Batik yang identik dengan pakaian Mandela justru menjadi kendala tersendiri. "Banyak yang sungkan memakainya karena menganggap baju itu merupakan ciri khas Mandela yang dihormati semua orang negeri ini," katanya.

Menurut Direktur ITPC Wawan Sudarmawan, problem utama pemasaran batik di Afrika Selatan adalah barang itu diproduksi tidak ditujukan untuk dipasarkan di sana. Sejauh ini belum pernah ada peragaan busana batik digelar di sana. "Dari segi ukuran, batik juga sering kekecilan untuk orang sini," katanya.

Afrika Selatan, kata dia, umumnya menerapkan standar tinggi untuk barang yang didatangkan dari luar negeri. Batik justru belum memenuhi itu. Batik-batik yang masuk belum ada yang menyertakan label yang menjelaskan jenis kain dan cara pencucian yang biasanya selalu terdapat pada baju-baju mahal. "Dari segi motif, orang sini juga menginginkan yang tak terlalu rumit. Mungkin menyesuaikan dengan batik setempat yang kebanyakan hanya berupa garis-garis," katanya.

Mandela, Soeharto, dan Batik

Batik pertama kali dikenal Nelson Mandela di Bogor saat ia menghadiri Konferensi Asia-Pacific Economic Cooperation pada 1994 atau pada tahun pertamanya sebagai presiden. Sekali merasakan, ia tampaknya langsung kepincut. Maka, pada kunjungan keduanya ke Indonesia (1997), Presiden Soeharto pun sempat dibuat terhenyak. Ia menyambut Mandela dengan berjas lengkap, sedangkan Mandela justru mengenakan batik. Batik kemudian memang seperti tak pernah lepas dari lelaki berusia 92 tahun itu. Kabarnya, sebagian besar kemeja batik yang dikenakannya merupakan rancangan Iwan Tirta.

Warga Afrika Selatan menyebut batik dengan sebutan Madiba Shirt, merujuk pada nama panggilan tokoh pejuang apartheid itu. Menjadi ciri khas Mandela justru menjadi hambatan tersendiri bagi perkembangan batik. Banyak orang sungkan mengenakannya karena menganggap pakaian itu sebagai salah satu lambang kenegaraan.

tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Post